6 Cara Menguji Seseorang Agar Kita Mengetahui Sifat dan Karakter Aslinya

Posted on

Saat berinteraksi dengan sesama, kadang beberapa orang memilih untuk menyembunyikan karakter aslinya. Namun seiring berjalannya waktu, semakin lama interaksi itu terjalin, satu persatu karakter aslinya mulai terungkap.
Tapi ada juga sebagian orang yang pandai sekali berkamuflase. Menyimpan rapat-rapat karakter aslinya dan hanya dimunculkan jika sudah terdesak.

Mengetahui karakter/sifat/watak asli seseorang memang sangat diperlukan, seperti dalam pertemanan, persahabatan dan sejenisnya, atau untuk orang-orang tertentu yang memerlukan orang kepercayaan yang bisa dipercaya, seperti dalam berbisnis, berorganisasi, orang yang memiliki perusahaan, lembaga pendidikan dan sejenisnya.


Nah, apabila kita ingin mengetahui seperti apa sisi tersembunyi dari karakter seseorang, lakukanlah hal-hal di bawah ini.
1. Berurusan dengan keuangan

Yang pertama.. untuk menguji seseorang agar kita mengetahui karakter aslinya adalah dengan uang. Ya.. betul sekali.. UANG.. FULUS.. DUIT.. Dengan uang kita bisa mengetahui karakter asli seseorang dengan mudah dan cepat tanpa harus menunggu waktu yang lama. Bahkan hanya dalam sekejap mata. Karena uang ini bisa dikatakan sebagai benda sakti mandraguna tak bernyawa yang terkadang bisa merubah segalanya. Bahkan karena begitu saktinya si UANG ini, segala sesuatu yang tidak disangka-sangka dan dianggap mustahil pun bisa saja terjadi. Bahkan orang yang kita kasihani dan sayangi, atau orang yang pernah kita bantu dan kita tolong, atau orang yang kita percayai pun, bisa berubah dalam sekejap menjadi pengkhianat dan penjilat karena uang. Sungguh.. benar-benar sangat dahsyat sekali dampak dari si UANG ini.

Dengan uang ini sudah banyak mengungkap karakter asli seseorang. Ketika kita berurusan keuangan dengan seseorang, tidak ada lagi yang namanya sederhana. Semuanya jadi terasa rumit.

Dengan uang, kita bisa mengetahui kesetiaan, loyalitas, dedikasi dan tanggungjawab seseorang. Dan dengan uang pula, kita pun menjadi tau mana Kawan, mana Sahabat, mana Pengkhianat, mana Pecundang, mana yang Baik dan mana yang Pura-Pura Baik.

Uang kini sudah menjadi kebutuhan paling penting. Orang-orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang, mulai dari cara yang mulia sampai keji. Pepatah bilang, “Janganlah kamu menganggap orang itu seperti apa, sampai kamu berurusan uang dengannya”. Ada pula pepatah mengatakan, “Jika kita ingin mengetahui karakter asli, kesetiaan, loyalitas, dedikasi dan tanggungjawab seseorang, maka ujilah dengan uang“. Ini benar adanya dan terbukti, bukan sulap bukan sihir dan bukan hoax.
Jarang sekali ditemukan orang-orang yang bisa menyikapi masalah keuangan secara bijak. Jangankan teman atau sahabat, dengan saudara sendiri atau kerabat dekat atau orang yang kita percayai pun bisa terjadi perpecahan hanya karena uang. Sungguh ngeri sekali..

Dalam hadis dikatakan, “Ujilah temanmu dalam amarah, uang dan bepergian. Jika dia berhasil dalam ujian ini, dia adalah teman yang baik.”
2. Sikap ketika sedang menghadapi masalah atau  sedang dalam keadaan terpuruk

Sebenarnya.. kita akan lebih mudah untuk mengetahui karakter asli seseorang saat sedang menghadapi masalah atau sedang dalam keadaan terpuruk. Kita bisa melihat apakah dia itu tetap setia mendampingi atau pergi jauh mengkhianati. Apakah dia tegar, optimis, peduli dan bertanggung jawab atau malah lari dari masalah, acuh dan tidak perduli.

Bagi orang-orang yang dapat dipercaya akan dapat diandalkan dalam setiap waktu, entah itu dalam keadaan baik bahkan dalam keadaan buruk hingga terpuruk sekalipun. Mereka akan tetap ada dan memberikan sandaran walaupun tidak ada solusi yang dapat diberikan.

Disaat senang dan tenang semua bisa jadi teman akan tetapi disaat sulit dan susah tidak semua bisa jadi teman yang baik. Ketika senang memuji-muji tapi ketika susah mencaci-maki. Ketika senang mendekati tapi ketika susah menjauhi. Ketika butuh merangkuli tapi ketika tak butuh malah pergi. Ketika senang bergandengan tangan tapi ketika susah bertepuk tangan.

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketika kejayaanmu lenyap, saat itu kamu dapat mengetahui teman-teman sejatimu.”

Imam Syafi’i r.a. berkata:

Teman yang tidak berguna saat petaka melanda, ia hampir sama dengan musuh“.

Carilah sahabat yang setia dalam duka, bukan dalam suka, karena hidupmu senantiasa berputar-putar antara suka dan duka. Semoga kamu tidak menemukan sahabat di kala suka karena dikala kamu senang sudah biasa banyak orang yang akan mendekat padamu, namun bila giliran kamu susah mereka pun bertepuk tangan“.

3. Respon/sikap ketika marah

Dalam hadis dikatakan, “Ujilah temanmu dalam amarah, uang dan bepergian/safar. Jika dia berhasil dalam ujian ini, dia adalah teman yang baik.”

Orang yang sedang marah akan menunjukkan apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya. Dalam hal ini kita bisa menguji dia dengan sesuatu hal atau tindakan yang membuat dia marah dan kecewa. Dengan konsekuensi, tentu saja resikonya adalah kita akan dianggap tidak baik pada awalnya, tapi tenang saja, seiring berjalannya waktu nanti juga akan indah pada waktunya.. hehe..

Ketika dia sedang marah, maka kita bisa melihat bagaimana respon atau reaksi dia, apakah baik atau buruk, apakah dia itu temasuk orang yang sabar, optimis, kuat, pemaaf atau lemah, pesimis, pendendam, pemarah dan lain sebagainya.

Bisa juga dengan mengajak dia bepergian/safar (sesuai hadis diatas), terutama bepergian yang ada tantangan yang identik dengan kesulitan dan kesusahan. Sebab tidak sedikit orang ketika diajak bepergian terkadang banyak mengeluh dan uring-uringan, mungkin karena kesal menunggu atau terjadi musibah di jalan, seperti motor/mobil mogok, ban kempes/pecah dan lain sebagainya.

4. Menceritakan masalah padanya

Semua orang pasti ingin didengarkan baik-baik. Tapi tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik. Jika kita ingin tahu apakah seseorang itu adalah pendengar baik atau bukan, coba ceritakan masalah kita secara personal padanya. Responnya bisa nampak apakah dia seorang yang memiliki empati atau justru tidak peduli.
Kalau dia peduli, berarti dia termasuk orang yang berjiwa sosial tinggi. Tapi kalau dia nampak biasa saja dan cuek, mungkin dia tidak peduli dan tidak peka terhadap masalah orang lain yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
Tapi, kita juga jangan su’udon/berprasangka buruk dulu. Mungkin saja dia bersikap biasa dan cuek ketika mengetahui ada masalah yang terjadi pada kita itu, bisa jadi karena dia takut disangka ikut campur, atau mungkin dia sedang berusaha menunjukkan bahwa dirinya kurang suka menceritakan masalah pribadi hanya untuk mendapat simpati orang lain. Atau mungkin juga dia sedang ada masalah pribadi yang cukup besar dan rumit.
Dengan menceritakan masalah kita padanya, kita juga bisa mengetahui karakter aslinya, apakah dia itu termasuk tipe orang yang bisa dipercaya dan bisa menjaga rahasia kita atau justru pengkhianat dan penjilat yang hanya baik di depan kita saja tapi di belakang menikam yang justru akan membuat masalah makin besar dan rumit. Dengan demikian, kita pun bisa lebih waspada dan hati-hati ketika membicarakan masalah kita padanya atau pada orang lain.

Namun, kita juga harus memiliki batasan khusus tentang bagian mana saja yang orang lain bisa ketahui tentang diri kita. Jangan bicara terlalu banyak tentang kehidupan pribadi atau privasi kita kepada orang lain. Karena mungkin saja pandangan orang-orang akan jadi berbeda setelah mengetahui kehidupan pribadi kita. Ceritakan saja hanya pada orang yang benar-benar dekat dengan kita dan bisa kita percayai.

Sabda Rasulullah Saw.:

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat“. (HR. Bukhari).

5. Meminta tolong secara tiba-tiba
Melihat karakter asli seseorang bisa juga dilakukan dengan meminta pertolongan padanya secara tiba-tiba. Ada orang yang dengan sigap menolong dan mengesampingkan urusan pribadinya. Ada juga orang yang lebih memilih urusan pribadinya daripada menolong orang lain. Tapi ada juga yang berusaha menjelaskan secara baik-baik jika dia tidak bisa menolong.
Kita tidak bisa segera mencap anti sosial pada orang-orang yang memilih mendahulukan kepentingan pribadinya ketimbang menolong kita. Bisa jadi kepentingannya itu memang cukup krusial sehingga tidak bisa ditinggalkan. Tapi jika di kemudian hari kita tahu, bahwa dia menolak menolong kita padahal sedang tidak melakukan apa-apa, barulah kita berhak melabelinya kurang berjiwa sosial.

6. Hubungan dengan orang terdekat

Setiap orang pasti punya beberapa orang yang dipilih sebagai sosok paling berarti dalam hidup, bisa satu orang saja atau lebih. Orang spesial itu tidak selalu orang dicintai atau suami/istri, bisa juga orangtua, saudara, sahabat atau rekan kerja. Sifat seseorang pun dapat diketahui dari hal tersebut, misalnya ialah bagaimana dia memperlakukan orang spesialnya itu, apakah dia setia dan bisa dipercaya atau pengkhianat dan penjilat, pencemburu, penyayang, pemarah, pendendam, penyabar atau menghargai kebebasan dan perbedaan dan lain sebagainya. 
Walau dalam hal ini juga harus ditelusuri lebih jauh lagi, sebab tidak menutup kemungkinan dia bersikap tidak baik terhadap orang-orang spesialnya itu karena ada sebab lain yang memaksa dia harus bersikap seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *